Siapa yang tak kenal dengan Kopi,
kopi merupakan salah satu tanaman yang populer di kalangan dunia. Dengan olahan
minuman kopi seolah primadona semua kalangan masyarakat baik remaja, orang tua,
mahasiswa dan lainnya mayoritas kalangan itu suka dengan kopi. Aroma dan rasa
yang khas menjadi kebangaaan tersendiri bagi yang mengkomsumsinya. Tahu kah
anda bahwa kopi yang selama ini kita konsumsi adalah bukan berasal dari
indonesia meskipun terdapat budidaya kopi yang tersebar di penjuru indonesia.
Ketika kopi bukan berasal dari indonesia lantas kopi darimana yang penyebaran
hingga masuk ke indonesia seperti apa..?
Tulisan berikut ini berusaha
menguraikan sejarah singkat dan fakta menarik lainya tentang kopi yang tidak
banyak diketahui oleh penikmat kopi itu sendiri.
Kopi Berasal dari kata apa
Sebelum menelusuri sejarah kopi kita perlu
mengenal etimologi kata “kopi” itu sendiri dari beberapa refrensi yang telah
ada. Menurut Wiliam H. Ukers dalam
bukunya All About Coffe (1922)
kata “kopi” mulai masuk ke dalam bahasa-bahasa Eropa sekitar tahun 1600-an.
Kata tersebut diadaptasi dari bahasa Arab “qahwa”.
Di Arab istilah “qahwa” tidak ditujukan untuk nama tanaman tetapi
merujuk pada nama minuman. Malahan ada beberapa catatan yang menyebutkan
istilah tersebut awalnya merujuk pada salah satu jenis minuman dari anggur (wine). Tidak ada keterangan yang
jelas sejak kapan mulai digunakan untuk menyebut minuman kopi. Tapi para ahli
meyakini kata “qahwa” memang
digunakan untuk menyebut minuman yang terbuat dari biji yang diseduh dengan air
panas.
Masih menurut Ukers, asal-usul kata “kopi”
secara ilmiah mulai dibicarakan dalam Symposium on
The Etymology of The Word Coffee pada tahun 1909. Dalam simposium
ini secara umum kata “kopi” diyakini merujuk pada istilah dalam bahasa arab “qahwa”, yang mengandung arti
“kuat”.
Ada juga pihak yang menyangkal istilah kopi
diambil dari bahasa Arab. Menurut mereka istilah kopi berasal dari bahasa
tempat tanaman kopi berasal yakni Abyssinia. Diadaptasi dari kata “kaffa” nama sebuah kota di
daerah Shoa, di Selatan Barat Daya Abissynia. Namun anggapan ini terbantahkan
karena tidak didukung bukti kuat. Bukti lain menunjukkan di kota tersebut buah
kopi disebut dengan nama lain yakni “bun”.
Dalam catatan-catatan Arab “bun”
atau “bunn” digunakan
untuk menyebut biji kopi bukan minuman.
Dari bahasa Arab istilah “qahwa” diadaptasi ke dalam
bahasa lainnya seperti seperti bahasa Turki “kahve”,
bahasa Belanda “koffie”, bahasa
Perancis “cafĂ©”, bahasa Italia
“caffè”, bahasa Inggris “coffee”, bahasa Cina “kia-fey”, bahasa Jepang “kehi”, dan bahasa melayu “kawa”. Pada faktanya hampir
semua istilah untuk kopi di berbagai bahasa memiliki kesamaan bunyi dengan
istilah Arab.
Khusus untuk kasus Indonesia, besar
kemungkinan kata “kopi” diadaptasi dari istilah Arab melalui bahasa Belanda “koffie”. Dugaan yang logis
karena Belanda yang pertama kali membuka perkebunan kopi di Indonesia. Tapi
tidak menutup kemungkinan kata tersebut diadaptasi langsung dari bahasa Arab
atau Turki. Mengingat banyak pihak di Indonesia yang memiliki hubungan dengan
bangsa Arab sebelum orang-orang Eropa datang.
Sejarah kopi mencatat pada abad ke-9 asal
muasal tanaman kopi dari Abyssinia,
suatu daerah di Afrika yang saat ini mencakup wilayah negara Etiopia dan
Eritrea dimana biji-bijian asli ditanam oleh orang Ethiopia dataran tinggi. Pada saat itu, banyak
orang di Benua Afrika, terutama bangsa Etiopia, yang mengkonsumsi biji kopi yang
dicampurkan dengan lemak hewan dan anggur untuk sumber protein tubuh. Kopi menjadi
komoditas komersial setelah dibawa oleh para pedagang Arab ke Yaman. Di jazirah
Arab kopi popular sebagai minuman penyegar.
Di masa-masa awal bangsa Arab memonopoli
perdagangan biji kopi. Mereka mengendalikan perdagangan lewat Mocha, sebuah kota pelabuhan yang
terletak di Yaman. Saat itu Mocha menjadi satu-satunya gerbang lalu-lintas
perdagangan biji kopi. Saking pentingnya arti pelabuhan tersebut, orang-orang
Eropa terkadang menyebut kopi dengan nama Mocha (Kopi Mocha).
Memasuki abad ke-17 orang-orang Eropa mulai
mengembangkan perkebunan kopi sendiri. Mereka membudidayakan tanaman kopi di
daerah jajahannya yang tersebar di berbagai penjuru bumi. Salah satunya di
Pulau Jawa yang dikembangkan oleh bangsa Belanda. Untuk masa tertentu kopi dari
Jawa sempat mendominasi pasar kopi dunia. Saat itu secangkir kopi lebih popular
dengan sebutan “cup of java”, secara
harfiah artinya “secangkir jawa”.
Pada awalnya
kopi kurang begitu diterima oleh sebagian orang. Pada tahun 1511, karena efek
rangsangan yang ditimbulkan, dilarang penggunaannya oleh para imam konservatif
dan othodoks di majelis keagamaan di Makkah. Akan tetapi karena popularitas
minuman ini, maka larangan tersebut pada tahun 1524 dihilangkan atas perintah
Sultan Selim I dari Kesultanan Utsmaniyah Turki. Di Kairo, Mesir, larangan yang
serupa juga disahkan pada tahun 1532, di mana kedai kopi dan gudang kopi
ditutup.
Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.
Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.
Dari dunia Muslim, kopi menyebar ke Eropa, di mana minuman ini menjadi populer selama abad ke-17. Orang Belanda adalah yang pertama kali mengimpor kopi dalam skala besar ke Eropa, dan pada suatu waktu menyelundupkan bijinya pada tahun 1690, karena tanaman atau biji mentahnya tidak diijinkan keluar kawasan Arab. Ini kemudian berlanjut pada penanaman kopi di Jawa oleh orang Belanda.
Ketika kopi mencapai kawasan koloni Amerika, pada awalnya tidak sesukses di Eropa, karena dianggap kurang bisa menggantikan alkohol. Akan tetapi, selama Perang Revolusi, permintaan terhadap kopi meningkat cukup tinggi, sampai para penyalur harus membuka persediaan cadangan dan menaikkan harganya secara dramatis; sebagian hal ini karena didasari oleh menurunnya pesediaan teh oleh para pedagang Inggris. Minat orang Amerika terhadap kopi bertumbuh pada awal abad ke-19, menyusul terjadinya perang pada tahun 1812, di mana akses impor teh terputus sementara, dan juga karena meningkatnya teknologi pembuatan minuman, maka posisi kopi sebagai komoditas sehari-hari di Amerika menguat.
Indonesia sendiri tercatat pernah menikmati hasil tanaman kopi dengan mampu
memproduksi lebih dari 400 ribu ton kopi per tahunnya. Indonesia di era tahun 1990-an pernah menjadi
negara pengekspor kopi 3 terbesar di dunia setelah Brazil dan Columbia. Prestasi yang luar biasa lantas bagaimana
dengan tingkat konsumsi kopi masyarakat indonesia ?.
Secara umum,
Indonesia termasuk salah satu konsumen kopi dengan konsumsi 6,38% dari konsumsi
total negara eksportir kopi dunia. Dalam lima tahun terakhir, konsumsi kopi
Indonesia tidak mengalami peningkatan, dengan tingkat konsumsi sebesar 0,57 kg
per kapita per tahun. Indonesia termasuk dalam kategori tingkat konsumsi yang
sangat rendah di dunia, yaitu di bawah 1,0 kg per kapita per tahun (Anonim,
2007).
Di lain pihak
tingkat konsumsi kopi di negara-negara produsen kopi jauh lebih tinggi seperti
Brazil 5,36 kg/kapita/tahun, Costa Rica 4,47 kg/kapita/tahun, Haiti 2,16
kg/kapita/tahun, Nikaragua 2,06 kg/kapita/tahun, Kolombia 1,84 kg/kapita/tahun,
Venezuela 1,68 kg/kapita/tahun, Etiopia 1,36 kg/kapita/tahun, Panama 1,22
kg/kapita/tahun, Meksiko 1,17 kg/kapita/tahun, dan Filipina 0,69
kg/kapita/tahun (Brazilian Coffee Yearbook, 2008).
Rendahnya tingkat
konsumsi kopi Indonesia antara lain dipengaruhi oleh aspek psikologi dan aspek
ekonomi. Aspek psikologi menyangkut pandangan yang “kabur” akan efek negatif dari
minum kopi, seperti mengganggu kesehatan, tidak baik untuk anak-anak dan
wanita. Minuman kopi terlanjur dianggap sebagai minuman yang tidak menyehatkan,
bahkan dalam mitos sejarah perkembangan kopi, minuman kopi dapat dianggap
sebagai penyebab kemandulan dan impotensi.
Semoga
bermanfaat...
Salam Kopi
Posted by Wiwin
Saputa orang biasa saja.


0 comments:
Post a Comment